Bagian I Pertanyaan I Artikel 10

Artikel 10 : Apakah dalam Kitab Suci Satu Kata mungkin Memiliki Beberapa Makna?

Keberatan 1 : Tampaknya bahwa dalam Kitab Suci satu kata tidak dapat memiliki sekaligus makna sejarah atau harfiah, alegoris, tropologis atau moral, dan anagogis, karena banyaknya makna yang berbeda dalam satu teks akan menghasilkan kebingungan dan penipuan dan menghancurkan semua kekuatan argumen. Oleh karena itu tidak ada argumen, tetapi hanya kesalahan, yang dapat dirumuskan dari suatu proposisi ganda. Tetapi Kitab Suci harus mampu menyatakan kebenaran tanpa kesalahan apapun. Oleh karena itu di dalamnya tidak bias terdapat beberapa makna dalam satu kata.

Keberatan 2 : Lebih lanjut, Agustinus mengatakan (De util. cred. iii) bahwa "Perjanjian Lama memiliki empat pembagian sebagai sejarah, etiologi, analogi dan alegori." Sekarang keempat hal tersebut tampak sama sekali berbeda dari empat divisi yang disebutkan dalam keberatan pertama. Oleh karena itu tampaknya tidak tepat untuk menjelaskan satu perkataan dari Kitab Suci dengan menggunakan keempat pemahaman yang disebutkan di atas.

Keberatan 3 : Lebih lanjut, selain makna-makna tersebut, ada makna parabolis, yang bukan merupakan salah satu dari empat makna tersebut.

Sebaliknya, Gregorius mengatakan (Moral. xx, 1): "Kitab Suci, dalam caranya berbicara, melampaui setiap ilmu pengetahuan, karena dalam kalimat yang satu dan sama, saat di satu pihak ia menyatakan suatu fakta, di lain pihak ia mengungkapkan suatu misteri."

Saya menjawab bahwa, Penulis Kitab Suci adalah Allah, yang dengan kuasa-Nya memberitahukan maksud-Nya, tidak hanya melalui kata-kata (seperti yang juga dilakukan manusia), tetapi juga melalui hal-hal itu sendiri. Jadi, sebagaimana dalam setiap ilmu lain, hal-hal diartikan melalui kata-kata, ilmu ini juga memiliki alat, yaitu bahwa hal-hal yang diartikan oleh kata-kata juga memilki makna. Oleh karena itu tanda pertama yang diberikan oleh kata-kata tersebut adalah makna pertama yaitu historis atau harafiah. Makna dimana hal-hal yang ditandakan oleh kata-kata juga memiliki artinya sendiri, disebut sebagai makna rohani, yang didasarkan pada makna harafiah, dan diisyaratkan dari makna harafiah tersebut. Sekarang makna rohani ini memiliki tiga bagian. Sebagaimana yang dikatakan sang Rasul (Ibrani 10:1) Hukum Lama adalah gambaran dari Hukum Baru, dan Dionysius mengatakan (Coel. Hier. i) "Hukum Baru itu sendiri adalah gambaran kemuliaan masa depan." Sekali lagi, dalam Hukum Baru, apa pun yang telah dilakukan oleh Kepala kita adalah gambaran apa yang seharusnya kita lakukan. Oleh karena itu, sejauh Hukum Lama menandakan sesuatu dari Hukum Baru, maka di dalamnya terkandung makna alegoris, dan selama hal-hal tersebut dilakukan dalam KRistus, atau selama hal-hal tersebut menandakan Kristus, mereka adalah gambaran tentang apa yang seharusnya kita lakukan, dan di dalamnya terdapat makna moral. Tapi sejauh mereka mengartikan sesuatu yang berkaitan dengan kemuliaan kekal, maka terdapat makna anagogis. Karena makna harafiah adalah makna yang dimaksudkan oleh penulis, dank arena penulis Kitab Suci adalah Allah, yang melalui satu tindakan telah memahami segala sesuatu dalam pengetahuan-Nya, maka bukannya tidak tepat, seperti dikatakan Agustinus (Confess. xii), jika dalam arti harafiahnya sekalipun, suatu kata dalam Kitab Suci dapat memiliki beberapa makna.

Tanggapan terhadap Keberatan 1 : Banyaknya makna tersebut tidak menghasilkan pengelakan atau jenis lainnya, dengan memahami bahwa makna-makna tersebut bukannya diartikan lain karena satu kata memiliki beberapa arti, tetapi karena hal-hal yang ditandakan oleh kata-kata dapat dalam dirinya sendiri merupakan gambaran dari hal-hal lainnya. Dengan demikian dalam Kitab Suci tidak ada kebingungan, karena semua makna didasarkan pada satu makna---yaitu makna harfiah---yang hanya darinya suatu argumen dapat ditarik, dan bukan dari makna alegorinya, seperti dikatakan Agustinus (Epis. 48). Namun demikian, tidak ada satupun dalam Kitab Suci yang hilang karena memiliki beberapa makna, karena tidak ada hal yang perlu bagi iman yang terkandung dalam arti rohani, yang tidak ditempatkan dalam makna harafiahnya dalam Kitab Suci.

Tanggapan  terhadap  Keberatan  2 :  Tiga  hal  ini---sejarah,  etiologi,  analogi---dikelompokkan            dalam makna            harfiah.          Karena           disebut sebagai sejarah,seperti diuraikan Agustinus (Epis. 48), setiap kali sesuatu dihubungkan secara langsung; disebut etiologi ketika penyebabnya ditetapkan, sebagaimana ketika Tuhan kita memberi pemahaman mengapa Musa memperbolehkan seorang istri dijauhkan --- yaitu, karena kekerasan hati manusia; Disebut analogi jika kebenaran satu teks dalam Kitab Suci ditampilkan secara tidak bertentangan dengan kebenaran lain. Dari keempatnya, hanya alegori yang berdiri untuk tiga makna rohani. Dengan demikian Hugh St Victor (Sacram. iv, 4 Prolog.) memasukkan makna anagogis sebagai bagian dari makna alegoris, dan memberikan tiga makna saja ---sejarah, alegoris dan tropologis.

Tanggapan terhadap Keberatan 3 : Makna parabolis terkandung dalam makna harfiah, karena oleh kata-kata, hal-hal ditandakan dengan tepat dan secara kiasan. Bukan tentang gambarannya itu sendiri, tapi tentang makna yang dikiaskan dalam makna harfiah. Ketika Alkitab berbicara tentang lengan Allah, arti harfiahnya bukanlah bahwa Allah memiliki anggota tubuh seperti itu, tapi hanya apa yang dikiaskan oleh anggota tubuh ini, yaitu kuasa operatif. Karena itu jelas bahwa tidak ada yang dapat keliru dalam pemahaman harafiah tentang Kitab Suci.