Tampaknya TB LAI mengabaikan kata hypostaseōs dan tidak menerjemahkannya, padahal keberatan 2 di atas berangkat dari situ yaitu bahwa hypostaseōs Allah mempunyai gambaran sehingga Allah disangka memiliki bentuk. KJV menerjemahkannya sebagai person. Dalam Konsili Nikea 325, hypostaseōs adalah sama artinya dengan ousia (http://www.newadvent.org/cathen/07610b.htm), yaitu esensi (http://www.newadvent.org/cathen/07449a.htm). Kata hypostaseōs ini muncul dalam Surat-surat Rasul Paulus (2 Kor 9:4; 11:17; Ibr 1:3-3:14) tapi tidak dalam pemahaman sebagai person. Perbedaan pemahaman ini menimbulkan heresy dalam Kristologi (http://www.newadvent.org/cathen/07610b.htm).