Bagian I Pertanyaan I Artikel 7

Artikel 7: Apakah Allah adalah Obyek dari Ilmu ini?

Keberatan 1: Tampaknya bahwa Allah bukanlah objek dari ilmu ini. Karena dalam setiap ilmu, sifat dari objeknya adalah suatu asumsi. Tetapi ilmu ini tidak bisa mengasumsikan esensi Allah, seperti yang dikatakan Damaskus (De Fide Orth. I, iv): "Adalah mustahil untuk mendefinisikan esensi Allah." Oleh karena itu Allah bukanlah objek dari ilmu ini.

Keberatan 2: Lebih lanjut, apa pun kesimpulan yang dicapai dalam ilmu pengetahuan harus tentang objek ilmu tersebut. Tapi dalam Kitab Suci kita mencapai kesimpulan bukan hanya tentang Allah, tetapi tentang banyak hal lain, seperti tentang ciptaan dan moralitas manusia. Oleh karena itu Allah bukanlah objek dari ilmu ini.

Sebaliknya, Objek dari suatu ilmu adalah sesuatu yang dibahas secara pokok di dalamnya. Namun dalam ilmu ini, pembahasan utama adalah tentang Allah; sehingga ilmu ini disebut teologi, karena membahas tentang Allah. Oleh karena itu Allah adalah obyek dari ilmu ini.

Aku menjawab bahwa, Allah adalah obyek dari ilmu ini. Hubungan antara ilmu pengetahuan dan objeknya adalah sama dengan hubungan antara suatu tindakan atau keadaan dengan objeknya. Sekarang dengan tepat dikatakan bahwa objek dari suatu tindakan atau keadaan adalah sesuatu yang berada di bawah aspek yang berhubungan dengan tindakan atau keadaan tersebut, seperti manusia dan batu yang berhubungan dengan tindakan memandang sesuatu yang berwarna. Oleh karena itu sesuatu yang berwarna adalah objek yang tepat dari penglihatan. Tapi dalam Ilmu Suci, semua hal dibahas di bawah aspek mengenai Allah : entah tentang Allah sendiri atau tentang hal-hal yang berhubungan dengan Allah sebagai awal dan akhirnya. Oleh karena itu Allah adalah pokok dari objek ilmu ini. Ini jelas juga dari prinsip-prinsip ilmu ini, yaitu, artikel-artikel iman, karena iman adalah tentang Allah. Objek prinsip dan keseluruhan ilmu harus sama, karena sebagian besar ilmu tersebut terkandung dalam prinsip-prinsipnya. Namun, beberapa orang yang melihat pada apa yang dibahas dalam ilmu ini, bukannya pada aspek yang membahasnya, bersikeras bahwa objek dari ilmu ini adalah hal lain selain Allah---yaitu, entah tentang hal-hal atau tanda-tanda, atau tentang karya-karya keselamatan; atau tentang keseluruhan Kristus, sebagai kepala dan anggota. Tentang semuanya itu, sungguh, kita memang membahasnya dalam ilmu ini, tetapi sejauh hal-hal tersebut ada hubungannya dengan pembahasan tentang Allah.

Tanggapan terhadap Keberatan 1 : Walaupun kita tidak tahu seperti apa esensi Allah itu, namun dalam ilmu ini kita menggunakan efek-efek yang keluar dari-Nya, entah tentang alam atau tentang rahmat, dalam definisi yang berhubungan dengan apa yang dibahas dalam ilmu ini mengenai Allah; bahkan seperti dalam beberapa ilmu filsafat kita membahas suatu sebab dari efek yang dihasilkannya, dengan meletakkan efeknya ke dalam definisi suatu sebab.

Tanggapan terhadap Keberatan 2 : Kesimpulan apapun yang dicapai dalam ilmu suci ini adalah difahami di bawah pemahaman tentang Allah, bukan sebagai bagian atau spesies atau aksiden [cat. Penerj. : tentang aksiden ini akan dibahas secara terpisah] yang tersendiri, tetapi dalam suatu pemahaman yang berhubungan dengan Allah.