Bagian I Pertanyaan 3 Artikel 6

Artikel 6 : Apakah dalam Allah Terdapat Aksiden?


Keberatan 1 : Tampaknya dalam Allah ada aksiden, karena suatu substansi tidak bisa menjadi akesiden, sebagaimana dikatakan Aristoteles (Phys. i). Oleh karena itu apa yang menjadi aksiden di suatu tempat, tidak bisa menjadi substansi di tempat lain. Dengan demikian terbukti bahwa panas tidak dapat menjadi bentuk substatnsial dari api, karena panas adalah aksiden dalam hal lain. TApi kebijaksanaan, kebajikan dan sejenisnya, yang merupakan aksiden pada diri kita, diatribusikan pada Allah. Maka dalam Allah ada aksiden.

Keberatan 2 : Lebih lanjut, dalam setiap genus ada prinsipal pertama. Tetapi ada banyak "genera" [cat. : bentuk jamak dari genus] untuk banyak aksiden. Maka, jika tiap principal pertama tersebut tidak ada dalam Allah, maka aka nada keberadaan prima lainnya selain Allah—yang adalah absurd.

Sebaliknya, Setiap aksiden ada dalam suatu subjek. Tetapi Allah tidak dapat menjadi subjek, karena "suatu forma sederhana tidak dapat menjadi suatu subjek ", sebagai dikatakan Boethius (De Trin.). Oleh karena itu dalam Allah tidak ada aksiden.

Aku menjawab bahwa, Dari semua yang telah kita katakan, adalah jelas bahwa dalam Allah tidak ada aksiden. Pertama, karena suatu subjek dibandingkan dengan aksidennya sebagai suatu potensialitas menuju kepada aktualitas, karena suatu subjek dalam pengertian tertentu dijadikan actual oleh aksiden-aksidennya. Tapi tidak ada potensialitas dalam Allah, sebagaimana telah ditunjukkan (P[2], A[3]). Kedua, karena Allah adalah keberadaan-Nya sendiri; dan sebagaimana dikatakan Boethius (Hebdom.), meskipun setiap esensi mungkin punya sesuatu yang ditambahkan padanya, ini tidak berlaku untuk keberadaan yang absolut: dengan demikian suatu substansi yang menerima panas dapat menerima sesuatu selain panas, sebagaimana warna putih, namun panas yang absolute tidak memiliki apapun selain panas di dalamnya. Ketiga, karena esensi telah ada terlebih dahulu daripada aksiden. Karena Allah adalah keberadaan prima yang absolute, maka tidak ada aksiden di dalam-Nya. Tidak pula Ia memiliki aksiden esensial apapun (sebagaimana kemampuan untuk tertawa adalah suatu aksiden esensial dalam manusia) , karena aksiden semacam itu disebabkan oleh principal pokok suatu subjek. Sekarang, tidak ada penyebab dalam Allah, karena Ia sendiri adalah Penyebab pertama. Maka tidak ada aksiden dalam Allah.

Tanggapan terhadap Keberatan 1 : Kebajikan dan kebijaksanaan tidak dipredikasikan pada Allah dan pada diri kita dalam cara yang sama. Maka tidak berarti ada aksiden dalam Allah seperti yang ada pada kita.

Tanggapan terhadap Keberatan 2 : Karena substansi ada terlebih dahulu daripada aksiden, principal-prinsipal dari aksiden ditarik mundur sampai pada principal-prinsipal substansi tersebut sebagai sesuatu yang telah ada terlebih dahulu, seolah-olah terkandung dalam genus substansi tersebut. Namun Allah adalah yang keberadaan yang pertama, dan berada di luar genus apapun.